bruno mars

http://dc357.4shared.com/img/595846117/69006477/dlink__2Fdownload_2FCDK-hEhz_3Ftsid_3D20110515-075943-419de077/preview.mp3

Selasa, 08 Maret 2011

Sintesis Komunikasi, Antropologi, Psikologi dan Sosiologi

Sintesis Komunikasi, Antropologi, Psikologi dan Sosiologi

Antropologi

Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitian pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal.
William A. Havilland: Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.Dari definisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Dengan, demikain antropologi merupakan hal yang mempelajari seluk-beluk yang terjadi dalam kehidupan manusia.Dapat dilihat dari perkembang pada masa saat ini, yang merupakan salah dari fenomena- fenomena yang terjadi ditengah- tengah masyarakat sekarang ini.

Psikologi

Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya. Menurut asalnya katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: "ψυχή" (Psychē yang berarti jiwa) dan "-λογία" (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.Walaupun sejak dulu telah ada pemikiran tentang ilmu yang mempelajari manusia dalam kurun waktu bersamaan dengan adanya pemikiran tentang ilmu yang mempelajari alam, akan tetapi karena kerumitan dan kedinamisan manusia untuk dipahami, maka psikologi baru tercipta sebagai ilmu sejak akhir 1800-an yaitu sewaktu Wilhem Wundt mendirikan laboratorium psikologi pertama didunia. Psikologi adalah ilmu yang luas dan ambisius, dilengkapi oleh biologi dan ilmu saraf pada perbatasannya dengan ilmu alam dan dilengkapi oleh sosiologi dan anthropologi pada perbatasannya dengan ilmu sosial.

Sosiologi

Walaupun banyak definisi tentang sosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat.Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya.[rujukan?] Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi, sosial.Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi mengkaji lebih mendalam pada bidangnya dengan cara bervariasi.[4] Misalnya seorang sosiologi mengkaji dan mengamati kenakalan remaja di Indonesia saat ini, mereka akan mengkaji mengapa remaja tersebut nakal, mulai kapan remaja tersebut berperilaku nakal, sampai memberikan alternatif pemecahan masalah tersebut Ruang lingkup kajian sosiologi lebih luas dari ilmu sosial lainnya.[5] Hal ini dikarenakan ruang lingkup sosiologi mencakup semua interaksi sosial yang berlangsung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok di lingkugan masyarakat.
Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang pergaulan hidup antara seseorang dengan seseorang, perseorangan dengan golongan atau golongan dengan golongan. Dengan demikian terdapat dua unsur pokok dalam sosiologi, yaitu manusia dan hubungan sosial (masyarakat). Terdapat berbagai pendapat tentang kedudukan individu dan masyarakat ini.Sosiologi sebagai ilmu sosial yang mempunyai fokus kajian mengenai tingkah laku manusia mempunyai bidang kajian yang sangat luas, antara lain bidang kajian Sosiologi Industri, Sosiologi Hukum, Sosiologi Pendidikan, Sosiologi Perkotaan, Sosiologi Pedesaan, Sosiologi Kesehatan, dan lain-lain.

Komunikasi

Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah aktivitas pertukaran ide atau gagasan. Secara sederhana, kegiatan komunikasi dipahami sebagai kegiatan penyampaian dan penerimaan pesan atau ide dari satu pihak ke pihak lain, dengan tujuan untuk mencapai kesamaan pandangan atas ide yang dipertukarkan tersebut. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling memengaruhi di antara keduanya.Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. pabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu.Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal.

Fungsi Film Pendidikan Dalam Kajian Ilmu Komunikasi

Sebagaimana sarana-sarana media komunikasi lainnya fungsi film pendidikan bagi kajian ilmu komunikasi tidak jauh beda, fungsinya adalah sebagai pemberi berita dan komunikasi yang efektif, dengan bentuknya yang variatif. Hanya saja apakah berita, atau komunikasi itu mempunyai aspek-aspek komunikasi, hal inilah yang pantas untuk dikemukakan bagi masyarakat
Etika komunikasi yang interdependensi antar pemilik berita dengan penerima berita atau konsumen televisi dalam kajian ini sangat diharapkan. Hubungan yang saling ketergantungan antara keduanya menciptakan harmonisasi suasana, bukan sebaliknya membuat rugi atau berang si penerima berita karena acara-acara gosip yang dilontarkan.
Berita-berita besar bisa jadi acara-acara spektakuler hasil penemuan dan karya baru seperti acara Guiness Book, hiburan kuis galileo, asah otak kuis siapa berani yang mengingatkan kita tentang pengetahuan komunikasi yang berkaitan dengan transformasi ilmu Seharusnya media televisi menjembatani sarana jarak jauh dalam bentuk tiga dimensi yang memuaskan bagi kebutuhan masyarakat untuk menerima berita-berita besar tanah air dan luar negeri. Motivasi yang membawa peran “Sender” ini membuat pemilik stasiun televisi swasta hati-hati dalam memberitakan kepada umat.
Tidak semata-semata nilai komersial akurasi data, manfa’at dan mudharatnya, biarkan modern dan post modern berlalu namun prinsip-prinsip komunikasi dasar antara sender dan receiver tetap terjaga. Jangan lagi kita disibukkan penampilan wjah luar yang tidak memiliki bentuk untuk menyuguhkan acara yang berguna. Kemajuan sebuah televisi bukan dilihat dari warna-warni pola siarannya, tetapi bagaimana media televisi tersebut bisa menjunjung tinggi budaya dan moral masyarakat.
Potensi Film Pendidikan Sebagai Media Pendidikan Budi Pekerti Dalam Kajian Ilmu Komunikasi
Televisi sebagai media massa, memiliki tiga fungsi utama yaitu sebagai media informasi (information), sabagai media pendidikan (education) dan sebagai media hiburan (entertainment). Sesuai dengan fungsinya televisi sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai media pendidikan, karena dalam berbagai hal televisi dapat memberikan rangsangan, membawa serta, memicu, membangkitkan, mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu, memberikan saran-saran, memberikan warna, mengajar, menghibur, memperkuat, menggiatkan, menyampaikan pengaruh dari orang lain, memperkenalkan berbagai identitas (ciri) sesuatu, memberikan contoh, proses internalisasi tingkah laku, berbagai bentuk partisipasi serta penyesuaian diri dan lain-lain (Brown, 1977 : 347). Selain itu media televisi juga merupakan wahana yang kuat sekali pengaruhnya dalam pembentukan pola fikir, sikap dan tingkah laku disamping menambah pengetahuan dan memperluas wawasan masyarakat ( Sri Hardjoko, 1994 : 4 ). Suprapti Widarto (1994 : 7) menambahkan bahwa: siaran televise memiliki daya penetrasi yang sangat kuat terhadap kehidupan manusia sehingga ia mampu merubah sikap, pendapat dan prilaku seseorang dalam rentang waktu yang relatif singkat. Dengan jangkauannya yang begitu luas, siaran televisi memiliki potensi yang luar biasa untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi kepentingan pendidikan.
Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Fahmi Alatas (1994 : 3), dengan kekuatan pandang dengarnya, siaran televisi memiliki potensi penetratif untuk mempengaruhi sikap, pandangan, gaya hidup, orientasi dan motivasi masyarakat. Dari berbagai pendapat tersebut disimpulkan bahwa, televisi merupakan media yang sangat potensial sebagai sarana pendidikan, khususnya pendidikan budi pekerti. Karena tujuan pendidikan budi pekerti seiring /sejalan dengan tujuan pendidikan pada umumnya. Tujuan pendidikan kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Yang dimaksud manusia Indonesia seutuhnya adalah manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, memiliki kepribadian yang mantab dan mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional).
Disamping itu, media televisi yang memiliki kemampuan menyajikan informasi dalam bentuk visual dan suara, dinilai sangat efektif untuk menyampaikan materi/ pesan-pesan pendidikan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang disampaikan Dwyer (1978:11) bahwa sebagaian besar materi pendidikan/pembelajaran (83%) diserap oleh peserta didik melalui indera penglihatan, 11% nya melalui indera pendengaran dan sisanya 6% melalui indera pengecapan, penciuman dan rabaan. Persoalannya adalah bagaimana mengemas tayangan program-program pendidikan budi pekerti melalui televisi menjadi sebuah tontonan yang menghibur sekaligus berisikan pesan-pesan/informasi yang pantas dan tidak pantas untuk ditiru oleh para pemirsanya. Membuat program yang demikian tentu dibutuhkan keterlibatan dari berbagai pihak serta ketelitian dan kejelian dalam mengangkat tema-tema aktual yang sedang ngetrend sekaligus menarik, kemudian dikaitkan dengan pesan-pesan pendidikan budi pekerti yang ingin disampaikan.

Kelemahan Film Pendidikan Sebagai Media Pendidikan Budi Pekerti Dan Cara Mengatasinya

Menurut Molenda Televisi adalah media yang bersifat searah, padahal dalam proses kegiatan pendidikan komunikasi sebaiknya dilakukan secara timbal balik (dua arah) antara peserta didik dengan sumber belajarnya. Hal ini dapat diatasi apabila dalam memanfaatkan program televisi peserta didik didampingi oleh seorang fasilitator atau seorang guru atau orang tua yang bisa menjadi tempat bertanya dan memberikan pengarahan-pengarahan dalam melakukan diskusi-diskusi tentang hal-hal yang pantas dan tidak pantas ditiru setelah peserta didik menyaksikan tayangan program, dan atau setelah siaran diadakan komunikasi secara aktif melalui telepon. Kelemahan yang lain biaya yang besar, untuk merancang dan mengembangkan program-program televisi pendidikan termasuk pengadaan pesawat televisinya. Kelemahan lainnya berupa gangguan cuaca yang kadang-kadang mengganggu kualitas tayangan program yang diterima oleh peserta didik. Sehubungan dengan dana (mahalnya program televisi) Perin (1977 : 7) berpendapat sebaliknya. Pemanfaatan televisi sebagai media pendidikan sebenarnya tidak mahal karena dalam waktu yang bersamaan program tersebut bisa dimanfaatkan oleh peserta didik dalam jumlah yang sangat besar dan dalam daerah jangkauan yang luas : “they are so available and so inexpensive (where) seeing the number of consumers is large” Mengingat kelebihan ini, dapat disimpulkan bahwa dari segi biaya, sebenarnya pemanfaatan televisi sebagai media pendidikan budi pekerti tidaklah mahal.

Senin, 07 Maret 2011

SISTEM KOMUNIKASI INDONESIA

Sistem Komunikasi Indonesia Melalui Pendekatan Sosiologis

a. Tahapan Mistis
Pada tahapan ini manusia masih berada pada alam yang gaib. Segala sesuatu berhubungan dengan magis.
b. Tahapan Ontologis
Pada tahapan ini mulai masuknya pengetahuan sehingga sudah mulai berpikir secara logis dan masuk akal.Masyarakat mulai memanfaatkan alam untuk kepentingan bersama.
c. Tahap Fungsionalis
Pada tahapan ini masyarakat mulai lebih individualis menurut fungsi masing-masing dalam masyarakat.
d. Sifat Partikularistik
Menitikberatkan pada kebutuhan kelompok dalam skala kecil.

Kualitas perubahan masyarakat diwarnai tingkat berpikir individu-individu sebagai anggota masyarakat. Van Peursen melihat perubahan yang terjadi melalui pergeseran sikap dan pola pikir masyarakat ke dalam tahapan mistis, ontologis dan fungsionalisme.Pada tahap mistis kondisi individu masyarakat berada dalam alam abstrak (khayal), semua perilaku terikat oleh tabu, ritual dan sakral. Individu tidak mengetahui identitas pribadinya sehingga tidak dapat mengembangkan prestasi dan potensi yang ada pada dirinya.Pada tahap ontologis individu masyarakat mulai memanfaatkan alam untuk kepentingan bersama. Individu mulai berada di alam nyata, ia mulai mengenal identitas pribadinya dan timbul hasrat mengembangkan prestasi dan potensi yang ada pada dirinya. Dari ontologis bergeser ke fungsionalis. Pada tahap ini individu berada di alam nyata dan rasional, muncul ego pribadi dalam mengembangkan prestasi dan potensi dirinya.
Durkheim mengkualifikasikan masyarakat dari sisi karakteristiknya, yaitu solidaritas mekanis yang dialamatkan pada masyarakat yang sederhana dan bersifat homogen, dan solidaritas organis dialamatkan kepada masyarakat yang heterogen.Talcott Parsons lebih melihat dari sisi interaksi unsur-unsur perubahan, yaitu orientasi, pelaku, kegiatan dan lambang. Parsons membagi masyarakat ke dalam dua sifat: universalistik yang berorientasi ke skala luas dan partikulistik ialah yang berorientasi ke skala kecil.Corak kebudayaan akan membentuk corak pribadi individu, sehingga pada masyarakat majemuk atau kaya etnik budaya akan muncul corak kepribadian beragam. Seperti halnya Indonesia sebagai negara yang kaya akan etnik budaya, upaya mencapai fungsi primer negara sangat bergantung kepada integritas etnik budaya dalam sistem nilai yang berlaku.Pada tangga ini proses transformasi sistem nilai memegang peran utama. Karena itu komunikasi perlu ditata secara bijak berdasar suatu sistem komunikasi khas Indonesia yang berakar pada nilai-nilai budaya bangsa.


Memahami Sistem Komunikasi Indonesia Menlalui Pendekatan Filosofis

Pendekatan filosofis adalah untuk mendapat jawaban tentang hakikat manusia berkomunikasi, yaitu bagaimana seharusnya manusia berkomunikasi dalam lingkup alam semesta dan dalam lingkup berbangsa dan bernegara.Jawaban terhadap pertanyaan tersebut tidak hanya dalam kemasan filosofis yang bersifat abstrak dan spekulatif, akan tetapi harus dikonkritkan dalam sikap dan perilaku agar kemasan tersebut bermanfaat dan dapat dinikmati bagi kehidupan umat manusia.Konkritisasi tersebut hanya dapat dijumpai dalam terapan sistem, karena filsafat mencari hakikat kebenaran dan keadilan maka terapan komunikasi tidak meronta dari hakikat tersebut.Terapan ilmu komunikasi dalam tatanan sistem nilai di Indonesia merupakan tipe ideal bangsa Indonesia di dalam mencari jawaban bagaimana seharusnya berkomunikasi untuk mencapai hakikat kebenaran dan keadilan.Sistem komunikasi Indonesia menunjukkan pola keteraturan bagaimana manusia Indonesia berkomunikasi baik dalam suasana suprastruktur komunikasi maupun dalam suasana infrastuktur komunikasi. Pada kedua suasana ini terdapat komunikator-komunikator dan komunikan-komunikan yang pada hakikatnya sebagai manusia yang mempunyai angan-angan dan cita-cita menurut hakikat yang benar. Cita-cita dan angan-angan hakikat manusia yang selalu ingin menjalin hubungan antara satu dengan lainnya menurut kodratnya. Untuk lebih memperluas hubungan maka lahir produk berpikir manusia dalam wujud media


Memahami Akar Sistem Melalui Pendekatan Sejarah

Telusuran sejarah memberi gambaran bahwa sistem komunikasi pada masa kerajaan tertua di Indonesia menampakkan karakter tertutup. Arus komunikasi vertikal mengalir dari atas ke bawah yang berisi pesan-pesan komunikasi untuk membentuk sikap rakyat kerajaan mengkultuskan dan memithoskan raja. Proses komunikasi horizontal dalam masyarakat sebatas pemenuhan kebutuhan sehari-hari, kalaupun ada yang berkait dengan kehidupan pemerintahan hanya sebatas ketaatan terhadap raja dan kepatuhan melaksanakan dogma agama. (Hindu).Pada kerajaan Sriwijaya di Sumatera sebagai profil maritim, sistem komunikasi ditata secara teratur menurut sistem maritim. Kemasan Komunikasi mengalir melalui kota-kota pelabuhan.Sistem komunikasi kerajaan Sriwijaya menggunakan konsep keterbukaan (tradisi diplomasi) melalui jalinan komunikasi perdagangan. Diperkuat dengan pusat kegiatan agama Budha yang berlevel (tingkat) Global berada pada kerajaan ini.Selain profil maritim terdapat juga profil agraris sebagaimana kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa. Kerajaan Mataram sebagai salah satu profil agraris muncul dengan keteraturan birokrasinya. Sistem komunikasi tersusun rapi menurut jenjang birokrasi.
Sosok profil agraris yang lebih maju dari Mataram yaitu kerajaan Majapahit. Kerajaan ini termasuk kerajaan terbesar di Indonesia yang pada waktu itu memiliki luas hampir seluas Indonesia sekarang. Tatanan birokrasi lebih teratur dan lebih rinci. Dari susunan birokrasi, tampak bahwa sistem komunikasi kerajaan Majapahit lebih rapi dan alur komunikasi berlangsung menurut alur struktur birokrasi. Komunikasi dalam kehidupan masyarakat menampakkan sifat keterbukaan walaupun dalam batas-batas tertentu sesuai peraturan kerajaan.
Banyak konsep-konsep produk kerajaan Majapahit menjadi rujukan generasi saat ini, antara lain istilah Palapa A dan B bahkan C sebagai sistem satelit domestik yang diilhami oleh Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada. Kemudian buah pikir Mpu Tantular dengan Bhineka Tunggal Ika-nya menjadi seloka lambang negara kita.Sistem komunikasi yang lebih sempurna dari kerajaan-kerajaan sebelumnya terdapat pada sistem komunikasi kerajaan Mataram II. Dari susunan birokrasi ada sifat keterbukaan komunikasi yang menunjukkan bahwa Mataram II setelah masuk Islam muncul sebagai kerajaan yang lebih maju dari kerajaan-kerajaan sebelumnya.

1.Proses Komunikasi Dalam Alur Vertikal

Alur komunikasi vertikal merupakan tolak ukur untuk menemukan karakter komunikasi tentang konsep apa yang diterapkan dalam sistem komunikasi.Dalam alur vertikal-vertikal proses komunikasi tidak hanya mengalir dari atas ke bawah tapi juga mengalir dari bawah ke atas.
Alur komunikasi vertikal-vertikal menunjukkan keterkaitan antara suprastruktur komunikasi dengan infrastruktur komunikasi.Alur komunikasi vertikal mengalir dari komunikator utama yaitu Presiden sebagai kepala pemerintahan kepada komunikator pelaksana. Pelaksana program menurut susunan struktur pemerintah.Dalam setiap ornamen terjadi proses encoding sesuai lingkup tugas, wewenang dan jabatan.Pada alur vertikal yang berdasar asas dekonsentrasi, ketika alur komunikasi memasuki wilayah utama, berlangsung jalinan komunikasi fungsional.
Proses encoding diwujudkan melalui instrumen-instrumen proses, baik alur instrumen vertikal ke bawah maupun instrumen alur ke atas sehingga menghasilkan kebijakan-kebijakan komunikasi nasional.

2.Proses Komunikasi Dalam Alur Horizontal

Jalinan komunikasi horizontal dalam suprastruktur komunikasi menunjukkan sikap kekeluargaan sebagaimana ditetapkan dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945Jalinan komunikasi antara lembaga Presiden dengan DPR merupakan duet harmonis di dalam membentuk undang-undang untuk melandasi sikap perilaku para penyelenggara Negara, penyelenggara pemerintahan sekaligus sikap perilaku masyarakat.Keharmonisan jalinan komunikasi kedua lembaga tersebut berarti kokohnya sendi-sendi kehidupan Negara sebagai replika sikap mental dan perilaku moral yang terintegrasi ke dalam ikatan-ikatan norma yang berlaku.DPR sebagai partner Presiden di dalam membentuk undang-undang mempunyai tiga dimensi utama yaitu: dimensi wakil rakyat, dimensi legislatif dan dimensi pengontrol/pengawas jalannya kekuasaan.Faktor-faktor yang mempengaruhi proses legislatif dikualifikasikan ke dalam tiga kelompok yaitu stimuli eksternal, setting psikologis dan komunikasi intrainstitusional.Jalinan komunikasi antara lembaga-lembaga otoritas menunjukkan sikap integratif yang mengarah kepada tercapainya tujuan sistem politik atau tujuan negara.

Sabtu, 26 Februari 2011

Creatif writing

Apa yang anda pikirkan ??

Bagaimana cara saya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, dengan baik dan benar ! Untuk itu, saya hanya bisa berusaha menyelesaikannya dengan kurun waktu yang singkat dan disertai dengan hasil yang memuaskan. Maka langkah utama yang dapat saya lakukan yaitu dengan membagi waktu saya sebaik-baiknya,sehingga dalam mengerjakan tugas yang diberikan tidak terlalu terburu-buru dan hasilnyapun memuaskan pastinya. Sedapat mungkin saya menenangkan pikiran dan berupaya untuk berada dalam keadaan santai dan nyaman, sehingga otak hanya berpikir dan fokus pada apa yang dipikirkan kemudian menyelesaikannya dengan baik dan hasil yang memuaskan. Inilah upaya yang dapat saya lakukan untuk mengerjakan tugas yang diberikan, kapanpun dan dimanapun saya berada......ok!!

Minggu, 24 Oktober 2010

Pengaruh Perkembangan Teknologi

“Bagaimana saya mengantisipasi dampak teknologi bagi profesi esok”

Teknologi pada masa yang akan yang datang pastilah lebih baik dan mempermudah kita dalam melakukan sesuatu hal.teknologi merupakan suatu alat yang mempermudah manusia untuk melakukan kegiatannya.Teknologi setipa harinya pastinya akan lebih berkembang mengikuti alur kehidupan yang lebih modern dan berkembang jadi kita harus mengantisipasi dampak perkembangan teknologi tersebut agar kita tidak dikalahkan oleh sebuah teknologi yang lebih canggih.Orang yang tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi,maka dia tidak akan berkembang atau meningkat.Karna teknologi dapat menggantikan perannya.Cara saya untuk mengantisipasi dampak perkembangan teknologi masa yang akan datang yaitu:
- Mampu mengoprasikan teknologi yang sedang berkembang.
- Mengetahui teknologi apa saja yang baru dan apa fungsi serta kegunaan teknologi tersebut.
- Menjadikan teknologi sebagai bantuan yang selalu membantu kehidupan kita dimasa yang akan datang,dan melihat apa efek yang ditimbulkannya kepada saya esok hari.
- Bagaimana cara kita menyadari adanya perkembangan teknologi disekitar kita,dan buatlah teknologi tersebut dapat berguna bagi kita dan memudahkan kita dalam mengoprasikannya.

Itulah sebuah teknologi,selalu berkembang dan memiliki kegunaan dan fungsi yang semakin lama merepotkan kita dan memudahkan kita.Oleh karena kitu janganlah ketinggalan jauh oleh perkembangan teknologi.Untuk mengantisipasi hal itu,banyak-banyaklah mencari informasi terbaru dan perluas wawasan dengan teknologi dan hal-hal yang baru.

“Dampak teknologi Komunikasi dalam kehidupan saya”

Teknologi komunikasi merupakan perkembangan teknologi yang sangat pesat dan berpengaruh pada komunikasi yang kita lakukan sehari-hari.Sehinhgga menimbulkan dampak yang luar biasa bagi kehidupan kita dan saya khususnya.Sebelum kita menyadari dampak yang ditimbulkan teknologi komunikasi bagi orang lain,terlebih dahulu kita harus menyadari dampak yang ditimbulkannya pada diri kita sendiri.Secara signifikan dampak yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi khususnya teknologi komunikasi bagi kehidupan saya,diantaranya yaitu :
- Memberikan kemudahan bagi saya untuk mendapatkan informasi yang saya butuhkan dalam waktu singkat.
- Memudahkan saya berkomunikasi dengan orang lain,walaupun jaraknya berjauhan.
- Membantu saya dalam menyelesaikan tugas-tugas saya dengan cepat dan dengan hasil yang lebih baik.
- Memberikan informasi yang lengkap dan actual kepada saya.
- Membuka wawasan saya yang lebih luas dengan teknologi yang saya gunakan,khususnya teknologi komunikasi.
- Memberikan pengetahuan yang lebih efektif dengan mnggunakan teknologi.
- Membantu saya dalam memahami sesuatu hal yang tidak saya pahami dan ketahui pastinya.

Dampak lain yang ditimbulkan teknologi komunikasi kepada saya yaitu,sebelum adanya teknologi komunuikasi yang semakin berkembang,rasa ingin tahu saya lebih banyak sebelum adanya teknologi tersebut,Yang sebenarnya tidak perlu untuk diketahui.dan juga mungkin karna adanya masukan yang tidak penting dari orang-orang disekitar kita,sehingga rasa ingin tahu tersebut muncul.Tetapi dampak ini tidak terlalu mempengaruhi saya.karena kesadaran tersebut bisa timbul dari dalam diri kita sendiri.Sejauh mana kita dapat mengantisipasinya.Dan karena kesadaran tersebut sehingga sekarang ini dampak tersebut bisa diatasi lebih seefektif mungkin,untuk menyelematkan generasi muda kita yang akan datang.

Selasa, 12 Oktober 2010

definisi berita

Berita
            Dalam jurnalistik, begitu banyak pengertian berita. Masing-masing orang memberikan definisi berita berdasarkan sudut pandang sendiri-sendiri dalam merumuskannya. Dalam buku Reporting, Mitchell V. Charnley menuliskan beberapa definisi berita:
            “Berita adalah segala sesuatu yang terkait waktu dan menarik perhatian banyak orang dan berita terbaik adalah hal-hal yang paling menarik yang menarik sebanyak mungkin orang (untuk membacanya).” Ini definisi menurut Willard Grosvenor Bleyer.
            Menurut Chilton R. Bush, berita adalah informasi yang “merangsang”, dengan informasi itu orang biasa dapat merasa puas dan bergairah. Sementara Charnley sendiri menyebutkan bahwa berita adalah laporan tentang fakta atau pendapat orang yang terikat oleh waktu, yang menarik dan/atau penting bagi sejumlah orang tertentu.
            Nah, dari sekian definisi atau batasan tentang berita itu, pada prinsipnya ada beberapa unsur penting yang harus diperhatikan dari definisi tersebut. Yakni:
  1. Laporan
  2. Kejadian/peristiwa/pendapat yang menarik dan penting
  3. Disajikan secepat mungkin (terikat oleh waktu)
Dalam jurnalistik juga dikenal jenis berita menurut penyajiannya. Pertama, Straight News (sering juga disebut hard news), yakni laporan kejadian-kejadian terbaru yang mengandung unsur penting dan menarik, tanpa mengandung pendapat-pendapat penulis berita. Straight news harus ringkas, singkat dalam pelaporannya, namun tetap nggak mengabaikan kelengkapan data dan obyektivitas.
Kedua, Soft News (sering disebut juga feature), yakni berita-berita yang menyangkut kemanusiaan serta menarik banyak orang termasuk kisah-ksiah jenaka, lust (menyangkut nafsu birahi manusia), keanehan (oddity).

Menulis berita
Oya, ada satu hal lagi tentang berita, selain kita harus memenuhi kaidah 5W+H (What, Who, Where, When, Why plus How), yakni menuliskan hasil laporan atau pengamatan terhadap peristiwa atau pendapat yang menarik itu. Intinya, adalah menuliskan berita itu ke dalam artikel yang menaik. Nah, supaya tulisan beritamu oke punya. Paling nggak kamu kudu mengetahui beberapa hal, di antaranya:
  1. Informasi. Yup, informasi, bukan bahasa. Informasi adalah batu-bata penyusun berita yang yang efektif. Tanpa informasi, walah jangan harap kamu bisa menulis berita itu dengan baik. Jangankan nggak punya informasi, informasinya nggak lengkap saja bakalan kewalahan bikin beritanya. Pokoknya, ada yang ganjal saja, karena tulisan jadi kurang menggigit.
  2. Siginifikansi. Maksudnya, berita kudu memiliki informasi penting; yakni memberi dampak pada pembaca. Misalnya aja, penulisnya mengingatkan pembaca kepada sesuatu yang mengancam kehidupan mereka.
  3. Fokus. Betul, kegagalan seorang penulis berita adalah ketika menyampaikan berita secara sporadis, alias semrawut. Nggak fokus. Berita yang sukses dan oke biasnya justru pendek, terbatasi secara tegas dan sangat fokus. “Less is more,” kata Hemingway.
  4. Konteks. Tulisan yang efektif mampu meletakkan informasi pada perspektif yang tepat sehingga pembaca tahu dari mana kisah berawal dan ke mana mengalir, serta seberapa jauh dampaknya.
  5. Wajah. Jurnalisme itu menyajikan gagasan dan peristiwa; tren sosial, penemuan ilmiah, opini hukum, perkembangan ekonomi, krisis internasional, tragedi kemanusiaan, dinamika agama, dsb. Tulisan yang disajikan itu berupaya mengenalkan pembaca kepada orang-orang yang menciptakan gagasan dan menggerakkan peristiwa. Atau menghadirkan orang-orang yang terpengaruh oleh gagasan dan peristiwa itu.
  6. Lokasi/Tempat. Sobat muda, pembaca menyukai banget “sense of place”. Kamu bisa membuat tulisan jadi lebih hidup jika menyusupkan “sense of place”. Bener lho. Misalnya aja kamu gambarkan tentang suasana jalannya pertandingan sepakbola yang menegangkan saat kedua klub itu bermain hidup-mati untuk mengejar gelar juara atau menghindari jurang degdradasi. Seru deh.
  7. Suara. Tulisan akan mudah diingat jika mampu menciptakan ilusi bahwa seorang penulis tengah bertutur kepada seorang pembacanya. Jadi, gunakan kalimat aktif. Bila perlu berbau percakapan.     
  8. Anekdot dan Kutipan. Anekdot adalah sebuah kepingan kisah singkat antara satu hingga lima alinea—“cerita dalam cerita”. Anekdot umumnya menggunakan seluruh teknik dasar penulisan fiksi; narasi, karakterisasi, dialog, suasana. Semua itu dibuat dengan tujuan untuk mengajak pembaca melihat cerita dalam detil visual yang kuat. Kata orang-orang sih, anekdot sering dianggap sebagai ‘permata’ dalam cerita.

Nilai berita
            Nilai berita adalah seperangkat kriteria untuk menilai apakah sebuah kejadian cukup penting untuk diliput. Ada sejumlah faktor yang membuat sebuah kejadian memiliki nilai berita. 7 di antaranya adalah:
  1. Kedekatan (proximity). Ada dua hal tentang kedekatan. Pertama dekat secara fisik dan kedua, kedekatan secara emosional. Orang cenderung tertarik bila membaca berita yang peristiwa atau kejadiannya dekat dengan wilayahnya dan juga perasaan emosional berdasarkan ikatan tertentu.
  2. Ketenaran (prominence). Orang terkenal memang sering menjadi berita. Seperti kata ungkapan Barat, Name makes news. Bintang film, sinetron, penyanyi, politisi ternama seringkali muncul di koran dan juga televisi.
  3. Aktualitas (timeliness). Berita, khususnya straight news, haruslah berupa laporan kejadian yang baru-baru ini terjadi atau peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan.
  4. Dampak (impact). Sebuah kejadian yang memiliki dampak pada masyarakat luas memiliki nilai berita yang tinggi. Semakin besar dampak tersebut bagi masyarakat, semakin tinggi pula nilai beritanya.
  5. Keluarbiasaan (magnitude). Sebenarnya hampir sama dengan dampak, namun magnitude di sini menyangkut sejumlah orang besar, prestasi besar, kehancuran yang besar, kemenangan besar, dan segala sesuatu yang besar.
  6. Konflik (conflict). Berita tentang adanya bentrokan, baik secara fisik maupun nonfisik, selalu menarik. Misalnya bentrokan antar manusia, manusia dengan binatang, antar kelompok, bangsa, etnik, agama, kepercayaan, perang dsb.
  7. Keanehan (oddity). Sesuatu yang tidak lazim (unusual) mengundang perhatian orang di sekitarnya. Orang yang berdandan esktrentrik, orang yang bergaya hidup nggak umum, memiliki ukuran fisik yang beda denga yang lain pada umumnya, dsb cenderung jadi berita yang bernilai tinggi.

Daya tarik berita (News interest).
Beberapa topik yang mengandung daya tarik berita di antaranya adalah: self-interest,
uang, seks, perjuangan, pahwalan dan keterkenalan, suspence (mencekam), human interest, kejadian (perayaan) dengan lingkup besar, kontes, penemuan baru, hal yang tidak biasa, kejahatan, dsb.

Sumber informasi untuk bahan berita
Ada beberapa sumber perolehan berita:
  1. Staf surat kabar, yaitu personal yang bekerja pada redaktur surat kabar tertentu, berkantor di redkasi surat kabar tersebut.
  2. Koresponden, yaitu wartawan yang bekerja untuk media atau kantor berita tertentu dan tidak berkantor di kantor redaksi.
  3. Kantor berita (news agencies), yakni lembaga yang khusus berita-berita dalam dan luar negeri serta beraneka jenisnya untuk kemudian dijual ke berbagai media massa.
  4. Features Syndicates, yaitu lembaga yang khusus “menjual” kepada penerbit.
  5. Kalangan publisitas, yaitu orang-orang atau kelompok yang bekerja mempopulerkan orang-orang atau peristiwa.
  6. Volunteer staff, yaitu orang-orang awam atau bukan kalangan pers yang akan memberi informasi berharga tentang gejala dan kejadian yang bisa diangkat sebagai berita.

Syarat sumber berita
            Sebuah tulisan jurnalistik haruslah bersumber dari fakta, bukan opini atau asumsi si reporter. Itu sebabnya, harus ada sumber berita yang jelas dan dapat dipercaya. Ada beberapa syarat sumber berita:
  1. Layak dipercaya, meski kelihatan mudah, tapi wartawan yang belum berpengalaman akan kejeblos mewawancarai sumber yang diragukan kebenaran omongannya. Jadi kudu jeli dan kritis ketika mengamati peristiwa atau kejadian dan siapa saja yang terlibat di dalamnya.
  2. Berwenang, artinya orang yang punya kekuasaan dan tanggung jawab terhadap masalah yang sedang kita garap. Kenapa ini penting? Pertama, agar tercapai keseimbangan penulisan berita yang balance (seimbang) dan both-sided coverage (liputan yang menyajikan keterangan dua pihak yang bertolak-belakang sehingga fair atau adil). Kedua, agar tulisan atau laporan bisa aman.
  3. Kompeten, artinya sumber berita tersebut layak untuk dimintai keterangannya.
  4. Orang yang berkaitan langsung dengan peristiwa, yaitu sumber berita yang memiliki hubungan, terpengaruh atau mempengaruhi peristiwa tersebut.